Puisi Karya : Noviana Supriatin
Pagi masih basah
saat langkah-langkah kecil
menyusuri jalan yang belum bernama.
Di pundaknya,
ada musim yang belum selesai,
ada jarak yang diam-diam
terus memanggil.
Angin kadang membawa ragu,
kerikil kadang menguji arah,
namun ia tak pernah pandai
berlama-lama dengan luka.
Ia memungut cahaya
dari sela hari yang sederhana,
menyimpannya rapat-rapat
di balik kedua mata.
Sementara ufuk
tetap berdiri di kejauhan,
menyimpan rahasia
yang belum sempat disentuh.
Dan ia terus berjalan,
sebab ada cahaya
yang hanya dapat ditemui
oleh mereka yang tak berhenti.