CATATAN YANG TERBUNGKAM

CERPEN KARYA KADER

Oleh: Nalindra Naraswari & Nova Putraku Bintang

Terik yang mengamuk siang itu menemani seorang pemuda yang duduk bersila menikmati secangkir Kapal Api dan ramainya Kampung Surabi. Bulir keringat tipis mengaliri pelipis, bercampur asap Dji Sam Soe yang dibiarkannya layu di tepi dipan kayu. Hembusan nafasnya menguar teratur, kontras dengan netra cokelatnya yang berpendar membuntuti langkah warga, yang beradu suara mengantarkan mobil berlambang emas meninggalkan lemah desa.

“Datang ga jelas sambil bawa senjata, eh… pulangnya cuma ninggalin kacau dan luka. Dasar ga guna.”

Hela nafas keluar dari bibir hitam Aji Bratadikara yang baru saja bersuara tanpa rasa. Pria itu mengendikkan bahunya malas, seolah kejadian ini terlalu biasa untuk kembali menjadi beban pikirannya. Meskipun jauh di lubuk hati, pria itu selalu menyumpah serapahi para manusia keji yang selalu haus kendali—yang terus berkunjung membawa perhatian dalam dera, lalu pergi membawa lari satu warga untuk dijadikan tahanan pembungkaman demokrasi.

Berbeda dari yang lainnya, Aji, satu dari sekian pemuda yang kali ini lolos dari ‘sidak dadakan’ itu memilih sibuk menyeruput kopinya dan menganggap kedatangan para pemegang kuasa itu hanya sebatas angin lalu seperti biasanya. Ia sadar, suara yang paling cepat habis ialah suara yang dikeluarkan didepan laras senjata. Bukan maksudnya pria itu tak peduli, tapi upacara kekuasaan itu seolah telah menjadi kegiatan rutin di kampungnya yang katanya dipenuhi generasi pemberontak negeri.

“Kalau membaca dikira mencari kesalahan aparat negara, dan ngadain diskusi dikira merencanakan kudeta… lalu mau dibawa kemana masa depan Indonesia?”

Bagi penghuni baru Kampung Surabi, mereka mungkin masih bisa memaki. Tapi bagi penghuni lama seperti Aji, duduk di beranda dengan laptop menyala dan segelas kopi lebih berguna ketika kunjungan itu lagi-lagi menghampiri. Baginya, setiap ludah akan selalu sia-sia bila kalimat “Kami hanya melakukan tindakan preventif demi kebaikan negara,” masih menjadi suapan template yang mereka berikan untuk membungkam seluruh kata.

Berbulan-bulan lamanya, Aji terus mencoba banyak cara untuk bersuara. Mengabarkan dan meyadarkan dunia tentang betapa tertindasnya arti demokrasi saat ini. Namun apalah daya bila surat aduannya selalu karam di tempat sampah tanpa dibaca lebih seksama. Berita yang dibuatnya pada laman pribadi selalu tiba-tiba di-take down dengan alasan yang tak pernah dia pahami. Bahkan naskah fiksi naratifnya selalu ditolak oleh media karena katanya “bersifat menghasut, menuduh pihak tertentu, hingga mengancam kestabilan legistimasi kekuasaan negara.”

“Padahal yang kami lakukan hanya mengamalkan Pasal 28E ayat tiga, tapi ancaman dan kekerasan HAM selalu menjadi sambutan dan jawaban yang kami terima.”

Mata lelah Aji berpendar, menandai barang-barang di depan griyanya yang berserakan seolah baru disapa prahara. Tangan belang bekas cengkraman besi beberapa bulan lalu itu seolah berkilau di bawah terik ketika pria itu membungkuk meluruhkan puntung rokoknya dari abu. Setelah menekan tombol terakhir keyboard-nya, pria itu akhirnya bangkit memberesi barangnya sebelum masuk membersihkan diri dari udara penuh bakteri berjenis koersi manis pemerintah yang mungkin menjangkitinya akibat kunjungan tadi.

Tetes air bergulir dari ujung surai Aji yang berdiri kaku di depan bilik mandi. Tangannya yang lembab menyapu embun kaca, mengungkap kebenaran yang selalu tersembunyi di balik kaus lusuh yang menutup dada dan punggung bungkuknya. Bulatan gelap dan garis melintang tercetak samar di kulitnya, menjadi tatto alami yang memaksa tubuhnya tetap ingat rasa sakitnya meskipun memorinya mulai tua.

“Aman sekali negeri ini… sampai-sampai setiap kedipan warga negaranya pun wajib dihitung dengan teliti,”

Denting notifikasi seolah memaksa Aji menyudahi lamunannya yang melalang buana. Pemuda itu baru saja memakai setelan kasualnya ketika tangannya meraih ponsel—hanya untuk kembali kecewa karena lagi-lagi tulisannya ditolak oleh media.

“Bahkan media yang seharusnya netral dan terbuka, kini takut pada karya fiksi yang seolah-olah bisa mengancam kestabilan kendali birokrasi,”

Hela nafas berat keluar dari belah bibir Aji yang membaca berulang penolakan pahit itu tanpa suara. Membiarkan setiap kata jatuh ke dasar dada, mengendap bersama rasa yang sudah lama menggulana. Kopinya tinggal ampas, dan rokoknya padam bersama siang yang mendadak terasa terlalu lama untuk ditanggung manusia biasa.

Aji menutup ponselnya, lalu menyalakannya lagi. Berulang kali. Seolah berharap sepenggal kalimat itu hanyalah mimpi buruk yang akan sirna dengan sendirinya. Namun kalimat pahit itu terlalu nyata untuk sebuah perubahan fana. Dan satu-satunya yang berubah hanyalah bahunya yang turun perlahan, nafasnya yang makin pendek, dan keyakinannya yang retak tanpa kata.

“Tak pernah kusangka, menulis ternyata bisa lebih berat daripada konfrontasi terbuka,”

Aji duduk lebih lama dari yang dia inginkan. Lebih lama dari sebuah batas aman. Di kepalanya, wajah-wajah muncul bergantian—kawan yang dijemput tanpa salam, yang dipulangkan dalam diam, hingga yang tak pernah kembali membawa kabar. Nama-nama yang tak berteriak, tak menuntut. Hanya hadir. Namun justru karena itu terasa lebih berat dari ancaman mana pun yang pernah datang menodongkan senjata.

“Aku lelah. Lelah sekali. Tapi kalau aku berhenti disini… lalu apa bedanya aku dengan mereka yang memilih tak peduli?”

Dengan hati yang berat dan lentera asa yang nyaris sirna, Aji membuka halama baru pada dokumen lamanya. Kursor berkedip di baris pertama seperti nadi yang menolak mati. Tangannya gemetar. Bukan karena berani, tapi karena lelah yang dipaksa berdiri lagi. Kali ini Ia tak menulis untuk diterima, tak juga untuk dibaca. Ia menulis karena ada hal-hal yang tak boleh selesai di tenggorokan saja.

Di luar, langkah kaki mendekat tanpa tergesa. Di dalam, Aji menekan huruf pertama—pelan, pasti, dan sadar akan harga yang menanti dibelakangnya. Karena jikalau pun tulisan ini gagal jua, setidaknya diam tidak menang tanpa perlawanan apa-apa.

Dua bayangan gelap terlihat menghalangi cahaya masuk dari celah bawah kayu. Seolah telah mengetahui alur selanjutnya, tangan gelapnya malah menarik kertas dan menorah tinta, alih-alih langsung membuka pintu. Kebiasaan yang selalu dilakukannya beberapa bulan sejak inspeksi dadakan itu terus menggerayangi, yakni meninggalkan catatan kaki di tempat yang tak bisa ditemukan oleh tangan-tangan berseragam duri.

“Aku hanya berjaga. Siapa tau aku berakhir mati di pengungsian seperti Pramoedya, atau ditenggelamkan tanpa jejak seperti pendahulu sebelumnya? —maka tulisan inilah satu-satunya hadiahku untuk mereka yang masih menjunjung nurani dan memanusiakan manusia.”

Dengusan kasar keluar dari bibir Aji yang tergesa berlari membuka pintu ketika orang-orang di luar mulai tak sabar menunggu. Dan sesuai dugaannya, pipi tirusnya kembali menjadi samsak sapaan rindu si paling berkuasa itu. Setelah serangkaian kalimat resmi yang dituduhkan tanpa data, pemuda itu lantas diseret masuk rantis tanpa sempat membela dirinya. Katanya alasannya hanya satu, “karya yang Anda coba kirimkan terdeteksi provokatif dan dapat menggiring opini yang membahayakan kestabilan demokrasi. Kami hanya melakukan tindakan tegas demi kebaikan kita semua,” ujar salah satu pria bunting berlencana dengan sorot seriusnya.

Dingin besi familiar yang menjerat pergelangan tangan Aji seolah membawanya pada basah nostalgia pahit lama yang terus gagal dilupakannya. Pintu rantis tahanan disebelahnya tertutup keras, memaksanya sadar akan luka lama yang kembali terasa nyata.

Dan ketika roda empat itu menghilang membawa si pemuda menuju tebing peradilan tak kasat mata, hanya satu catatan—yang tersembunyi dibalik ubin kasur Aji—yang menjadi pengingat bahwa jiwanya masih menyala meski tubuhnya dibawa lari. Robekan kertas yang berbobot lebih berat daripada tulisannya sendiri yang hampir tak terdeteksi.

“Aku tidak menulis untuk dikenang, dan tidak berharap untuk diselamatkan. Tulisan ini hanya pengingat, bahwa setiap keheningan yang kau ambil hari ini, hanya akan menjadi tuai bagi orang-orang yang kau sayangi di kemudian hari.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *